Review Psycho (1960): Sisi Gelap Alfred Hitchcock

Film Psycho (1960) ini digadang-gadangkan sebagai salah satu film horor terbaik sepanjang masa. Mengapa bisa segitunya? Untuk baca review singkat by IMDB, silakan menuju keĀ website IMDB ini.

Untuk filmnya sendiri memang tidak ada efek CGI atau efek keren apapun seperti film dimasa sekarang. Actually, filmnya masih khas jaman dulu. Hitam-putih, suara dubbing. Tapi, justru hal itu menambah atmosfir film menjadi lebih kelam. Hitchcock sendiri dengan sangat lihai meramu film ini dan formula yang digunakan sangat estetik. Plot ceritanya yang teratur, tapi twist banget di endingnya sampai mungkin kalian akan komentar “Wah ini gelasehh!” . Sungguh brilian.

Sebenernya, plot cerita pada awalnya sederhana kok. Seorang sekretaris cantik Marion Crane punya pacar yang ternyata sudah punya istri. Tapi, si pacar menjanjikan akan menceraikan istrinya dan menikah dengannya. Disaat balik ke kantor, Marion Crane dititipkan uang oleh teman bos-nya. Namun, uang yang sungguh banyak tersebut menimbulkan niat jahat Marion Crane untuk membawa kabur uang itu.

Dengan dalih sakit dan ingin pulang cepat, Marion akhirnya pulang dengan uang tersebut dan kabur ketempat pacarnya. Dia berencana menggunakan uang tersebut untuk menikahi pacarnya.

Namun, ditengah-tengah upaya kabur tersebut, dia dilanda lelah dan ngantuk sehingga Marion terpaksa harus minggir ke sebuah penginapan dipinggir jalan. Yap, betul. Bates Motel yang sudah terkenal itu haha.

Ternyata, motel tersebut dikelola oleh seorang pria, sebut saja Norman Bates. Bates ini pemuda yang kikus, jayus dan garing abis haha. Bahkan dia kurang lihai mengajak ngobrol Crane. Bates memiliki ‘Ibu’ yang sangat overprotektif, pengatur, suka marah-marah. Kebetulan sih, rumahnya Bates berada di atas bukit, tepat belakang motel. Bates juga menjelaskan ke Crane bahwa akhir-akhir ini motel jadi sepi karena pemindahan jalan raya.

Lalu, karena ingin mengenal Crane ‘lebih’ dalam, maka Bates menawarkan makan malam ke Crane. Namun, Ibu Bates menentang inisiatif tersebut. Crane merasa tidak enak dengan Bates. Namun, Bates memaksa Crane untuk makan malam dikantor motelnya. Akhirnya karena lapar Crane mengiyakan Bates. Sambil makan, Crane dan Bates berbincang-bincang mengenai hobi dan alasan Crane keluar kota.

Setelah makan, Crane berpamitan untuk segera balik ke kamar dan istirahat. Setelah balik ke kamar dan menyelipkan uang hasi curiannya, Crane mandi dan terjadilah shower scene yang legendaris itu.

Setelah Crane ‘hilang’ dan tanpa kabar, kakaknya Crane nyari-nyari Crane ke seantero negara tapi hasilnya nihil sampai muncul lah si detektif swasta ini menawarkan bantuan untuk menginvestigasi hilangnya Crane.

Hitchcock sangat apik sekali dalam memproses film ini. Meskipun scale-nya masih hitam putih, lantas tak membuat film ini murahan. Dengan plot yang sungguh-sungguh menjebak dan twisted.

Disamping kehebatan Hitchcok dalam meracik film ini, peran Anthony Perkins sebagai Norman Bates juga gak bisa dianggap kacangan. Karena, peran Bates lah yang membuat bulu kuduk merinding dan Perkins juga berhasil menggiring emosi penonton sepanjang film. Film ini memang pantas dijuluki ‘Film Horor Terbaik Sepanjang Masa”.

Di film ini juga seperti menyisipkan sebuah kesan, bahwa hal yang menyeramkan itu bukanlah hantu atau roh halus, namun manusia adalah makhluk yang paling menakutkan.

Film ini pernah dibuat sekuelnya pada tahun 1983 dan tahun 1986. Bahkan pernah dibuat remakenya juga di tahun 1998.

Pro’s:

  1. Jalan Cerita Keren dan gak gampang ketebak
  2. Plot twist nya luar biasa
  3. Filmnya mampu menggiring atmosfir kengerian dan memainkan emosi penonton

Con’s:

  1. Gambarnya masih hitam-putih
  2. Ada scene yang pasti bikin penonton kecewa haha

Gak sabar pengen nonton dan penasaran abis? Yuk, streaming langsung aja. Cheers!!

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *