Psikologinerd

Distorsi Kognitif: Ketika Negative Over-Thinking

Apakah kalian pernah merasa tidak berguna? Pasti sering ya? Hahaha.. Oke, gw akan kasih contoh mengenai distorsi kognitif.

Waktu ujian kenaikan kelas, kamu merasa sudah mengerjakan semua soal dengan benar. Tapi pas hasil ujian dibagiin, nilai kamu cuma 8, padahal kamu sudah merasa mengerjakan semua soal dengan benar. Dan kemudian munculah pikiran,”Perasaan udah bener semua deh, kok cuma 8 ya? Yang lain kok bisa salah ya?” Padahal nih, nilai kamu itu nilai tertinggi di kelas.

Atau ketika kamu lagi papasan sama sohib kamu, biasanya kamu dan dia bertegur sapa, tahu-tahu sohib kamu gak negor kamu. Langsung deh, kamu langsung berpikir, “Apa dia lagi bete ya sama gw? Perasaan gw gak bikin dia kesel kok. Apa jangan-jangan dia udah gak mau temenan sama gw lagi? Hiks.”

Contoh diatas tersebut merupakan kejadian yang sering terjadi pada kita dan dinamakan Distorsi Kognitif.


Distorsi kognitif adalah berpikiran secara berlebihan dan tidak rasional diidentifikasi dalam terapi kognitif dan variannya, yang dalam teori yang mengekalkan gangguan psikologis tertentu.
Teori distorsi kognitif pertama kali diajukan oleh David D. Burns, MD

Distorsi kognitif juga bisa diartikan sebagai kesalahan logika dalam berpikir, serta kecenderungan berpikir yang berlebihan serta tidak rasional. Apabila dibiarkan, kesalahan ini akan menjadi kebiasaan, mempengaruhi kondisi emosi kita, serta termanifestasi dalam perilaku.

Distorsi Kognitif merupakan mental disorder yang paling sering dan banyak terjadi pada manusia. Hal ini wajar, namun apabila berlebihan, akan mengakibatkan mental disorder yang lebih parah. Contoh: Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorder), Gangguan Pola Makan (Eating Disorder), Serangan panik (Panic Attack) dan lain-lain.

Distorsi kognitif memiliki beberapa jenis, yaitu:

  • Black and white thinking Atau sering disebut juga pemikiran “Semua atau tidak sama sekali”. Distorsi kognitif ini membuat kita berpikir hanya di dua titik ekstrem. Orang-orang pasti baik atau jahat. Hidup akan berjalan lancar atau buruk. Peristiwa yang kita alami hanya terdiri dari kejadian baik atau buruk. Saat kita berbuat kesalahan dalam ujian misalnya, kita akan langsung berpikir bahwa kita adalah siswa yang buruk dan segalanya akan rusak.
  • Pemberian cap atau label (Labelling) Mirip dengan black and white thinking, distorsi kognitif ini membuat kita memberi label pada siapapun; orang lain, ataupun kita sendiri. Padahal, setiap orang punya banyak sisi dan tidak mungkin satu label dapat mendeskripsikan keseluruhan sisi seseorang. Misalnya, kita mendapat kritik dari atasan, lalu langsung mencap diri sendiri bodoh dan tidak kompeten. Lalu membuat kita tidak bersemangat saat bekerja, padahal kritik yang didapat hanya tentang satu bagian kecil dari keseluruhan tanggung jawab di kantor. Atau, saat kita mencap seseorang bodoh, maka segala yang ia lakukan akan salah bahkan walaupun sebenarnya tidak begitu.
  • Overgeneralisasi (Overgeneralizing)Distorsi kognitif ini terjadi saat kita terlalu menggeneralisasi sesuatu. Misalnya, seseorang pernah gagal dalam berpacaran padahal sudah akan menikah. Lalu ia menggeneralisasi bahwa semua lawan jenis memang jahat, serta timbul trauma dalam hubungan romantis karena distorsi pikiran yang menempatkan satu pengalaman buruk sebagai norma untuk pengalaman di masa depan.
hiks putus
  • Filter mental (Mental filter) Kacamata membantu kita untuk melihat, tapi kacamata hitam membantu kita untuk tidak melihat sinar matahari yang terlalu terang. Distorsi kognitif ini adalah seperti memakai kacamata hitam untuk memandang dunia. Kita akan terfokus hanya pada hal-hal yang negatif saja dan mengabaikan aspek positif yang ada. Misalnya, kita tidak suka pelajaran Matematika di sekolah, kita akan langsung berpikir bahwa sekolah itu menyebalkan, dan mengabaikan fakta bahwa banyak hal lain yang positif tentang sekolah selain matematika.
  • Loncatan ke simpulan (Jumping to conclusions) Distorsi kognitif ini adalah saat kita membuat kesimpulan tanpa memiliki bukti yang mendukung. Contohnya, saat akan ada ujian, kita beranggapan akan gagal. Hal ini tentu tidak baik karena ujian belum terlaksana, hasil ujian belum keluar, dan sebenarnya masih banyak waktu untuk mempersiapkan materi ujian. Pikiran seperti ini malah akan membuat kita merasa bahwa hal negatif sudah terjadi dan menghalangi kita melakukan persiapan yang maksimal.
  •  Personalisasi (Personalizing) Adalah saat kita merasa bersalah atau bertanggungjawab secara personal atas sesuatu yang mungkin bukan sepenuhnya kesalahan kita. Contohnya, saat pertandingan olahraga dan tim kita kalah kemudian kita menyalahkan diri sendiri sebagai penyebab kekalahan tim, padahal yang bermain di pertandingan tersebut tidak hanya kita sendiri.
  • Pemikiran “Harus” Distorsi kognitif membuat kita terjebak dalam suatu ideal yang menurut kita harus orang lain atau kita sendiri lakukan. Pemikiran seperti “Semua orang harus mengerti perasaanku, dong!”, “Seharusnya dia lebih ramah sama orang lain,” atau “Harusnya aku lebih berani berpendapat, jadi aku ga bakal dipandang buruk oleh teman-teman” dapat membuat kita tertekan atau frustrasi karena adanya pemikiran harus yang tidak realistis.
  • Penalaran emosional (Emotional reasoning) Saat kita terlalu fokus pada emosi dan memberikan porsi yang terlalu banyak pada sisi emosional saat memandang atau memutuskan sesuatu. Saat kita merasa tidak yakin, tidak nyaman atau tidak mampu menghadapi sesuatu, kita lalu beranggapan bahwa kita tidak akan bisa melakukannya. Kata-kata “Saya merasa tidak bisa..”, “Saya kayaknya tidak mampu,” menjadi berbahaya karena sebenarnya pemikiran berlandaskan emosi negatif ini dapat mempengaruhi keputusan dan tindakan yang diambil.
  • Pembesaran atau pengecilan (Magnifying – Minimising) Saat kita memandang sesuatu tidak sesuai dengan porsinya. Kemungkinan pertama adalah pembesaran, yaitu saat kita membesarkan hal negatif yang terjadi lebih dari apa yang sebenarnya menjadi porsinya. Kemudian, kemungkinan kedua adalah mengecilkan pencapaian atau hal positif. Kedua hal ini menjadi berbahaya karena kita akan cenderung berpikir secara negatif apapun yang terjadi, bahkan walaupun hal positif terjadi di dalam hidup.
  • Membaca pikiran (Mind reading) Adalah saat seseorang memprediksi apa yang orang lain pikirkan tanpa adanya bukti yang mendukung. Misalnya, suatu hari kamu berpapasan dengan seorang teman, tapi ia tidak menyapa. Kamu langsung berpikir hal negatif tentangnya (Wah, dia sombong sekali tidak menyapa; Apakah dia tidak mau berteman lagi denganku?: Apakah aku tidak dia anggap teman?). Padahal, bisa saja asumsi negatif yang kita pikirkan tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan atau apa yang sebenarnya terjadi. Atau bisa saja temanmu memang sedang tidak fokus dan banyak hal yang ada di pikirannya saat berpapasan denganmu.
  • Standar ganda (Double standard) Yaitu saat kita memiliki standar yang berbeda untuk kita dan orang lain. Misalnya satu kesalahan yang sama, saat dilakukan oleh kita menjadi sangat negatif namun saat dilakukan orang lain kita berpikir “Ah, hal itu dapat terjadi ke siapa saja,”, ataupun sebaliknya. Distorsi ini membuat kita melihat sesuatu tidak sesuai dengan apa yang terjadi dan nantinya akan muncul kecenderungan untuk menyalahkan orang lain ataupun diri sendiri.

Jadi, sebenarnya distorsi kognitif ini lumrah dan pasti akan terjadi pada setiap orang.

Namun, distorsi kognitif yang berlebihan dan menahun justru akan memunculkan gangguan mental yang lebih serius. Jadi, jangan sering-sering berpipkir negatif. Otak kita, kehendak atas kontrol diri kita juga. So, think positively ya!!! ?

Source: 
Distorsi Kognitif
Distorsi Kognitif: Ketika Cara Berpikirmu Berbahaya
[BAHAYA] Jangan-Jangan Agan Selama ini Ngidap Distorsi Kognitif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *