Psikologinerd

Diet Ketat = Eating Disorder (??)

Kamu-kamu lagi diet ketat?? Pernah kepikiran gak kalau ternyata diet itu sama dengan eating disorder atau gangguan pola makan??

Seriusan ???!!?!?!??!?

Jangan kuatir dulu kawan-kawan. Ternyata, diet ketat itu tidak sama dengan Eating Disorder atau Gangguan Pola Makan, kok ?

Emang apa sih perbedaan diet ketat dan eating disorder?

Jelas beda banget, guys. Diet adalah sebuah metode yang mengatur asupan makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh–guna mencapai atau menjaga berat badan yang terkontrol, biasanya untuk mengurangi berat badan. Namun juga memungkinkan untuk menambah berat badan.

Diet ini biasanya memiliki batasan-batasan atas jumlah kalori, asupan, jenis makanan. Namun, tetap dalam batas kontrol dan lebih baiknya berdasarkan anjuran dokter/profesional sehingga body goals dapat terwujud. Tapi, kamu tetap bisa makan secara teratur.

Kemudian, mari kita lanjut ke eating disorder atau gangguan pola makan.

Gangguan pola makan atau eating disorder adalah sikap yang berbeda tehadap makanan yang menyebabkan seseorang mengubah perilaku dan kebiasaan makannya. Hal ini dapat menjadi kondisi serius yang berdampak negatif pada kesehatan, emosi dan kemampuan seseorang dalam berbagai area kehidupan yang penting.

Seseorang dengan gangguan pola makan akan terlalu berfokus pada berat badan dan bentuk tubuh, sehingga membuat pilihan yang tidak menyehatkan dalam hal makanan dan pada akhirnya berpotensi mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memperoleh nutrisi yang cukup. Gangguan makan juga dapat mengganggu fungsi jantung, sistem pencernaan, tulang, gigi, dan mulut . Selain itu, kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi serius yang mengancam nyawa. Serem juga sih!

kok kayak si mbek, Sis?

Untuk eat disorder, ada beberapa jenis. Tapi yang familiar di Indonesia adalah Anorexia Nervousa dan Bulimia Nervousa. Sebenernya untuk jenis eating disorder ini ada banyak. Cuma kali ini gw akan share 5 tipe eating disorder.

  1. Anorexia Nervousa merupakan sebuah tipe gangguan makan terjadi dikarenakan adanya distorsi kognitif yang mengakibatkan mereka takut menjadi gemuk secara berlebihan sehingga mereka tidak mau makan. Distorsi kognitif ini sebenarnya berkaitan dengan pandangan citra tubuh yang bersifat menyimpang. Nantinya gw akan research mengenai distorsi kognitif, tapi gak sekarang. ?

Mereka yang mengalami anorexia biasanya menganggap dirinya gemuk dan memiliki berat badan berlebih, meskipun secara fakta seringkali tidak demikian. Penderita anoreksia juga berupaya keras menjaga asupan makanan guna menjaga berat dan bentuk tubuhnya,hingga terkadang dapat mati karena kelaparan. Hal ini seringkali mengakibatkan mereka yang memiliki anorexia mengalami denial terkait kondisi tubuhnya meskipun mereka sudah diberitahu bahwa ia memiliki kondisi tubuh yang terlalu kurus dan dibawah berat badan normal.

Gangguan ini memiliki keterkaitan dengan gangguan mental lain, seperti depresi, kecemasan, dan sebagainya. Sehingga, tidak heran apabila angka bunuh diri pada wanita yang memiliki anorexia cukup tinggi, yakni mencapai 60% dan perilaku menyakiti diri sendiri yang mencapai angka 49%[8]. Bantuan profesional di bidang kesehatan mental sangat diperlukan untuk mengurai distorsi kognitif yang dialami.

Gejala anoreksia lainnya dapat berupa: tubuh kurus, insomnia, kelelahan yang berlebihan, pusing, kuku berwarna biru, kuku dan rambut rapuh, sembelit, kulit kering, dan detak jantung tidak teratur.

          2. Bulimia Nervousa merupakan gangguan makan yang terjadi ketika seseorang melakukan binge eating atau makan secara berlebih, lalu ia memuntahkannya kembali segera ketika ia merasa sudah puas. Gangguan makan ini ada kaitannya juga dengan DNA yang kemudian berinteraksi dengan kondisi lingkungan. Mereka yang mengalami ini biasanya juga memiliki beberapa gangguan lain, seperti depresi dan kecemasan. Berbeda dengan anorexia, orang yang memiliki bulimia biasanya memiliki berat badan normal.

Saat menderita gangguan bulimia, seseorang mengalami kehilangan kendali saat makan sehingga berulang kali mengonsumsi makanan dalam jumlah banyak lalu mengeluarkannya kembali (eating and purging). Hal ini dilakukan untuk mengurangi kalori yang berlebih karena merasa bersalah, malu dan takut mengalami kenaikan berat badan berlebih. Cara yang dilakukan biasanya dengan memaksa diri untuk muntah dan berolahraga terlalu keras.

Gejala bulimia lainnya adalah penggunaan suplemen penurunan berat badan secara ekstrem, penggunaan pencahar, mengonsumsi obat diuretik atau enema secara teratur. Penderita bulimia cenderung menilai kekurangan pada dirinya dengan terlalu keras, meski sebenarnya berat badannya normal atau sedikit berlebih. Banyak penderita bulimia juga membatasi makan dalam siang hari sehingga meningkatkan jumlah makanan pada malam hari, kemudian dimuntahkan kembali.

Bahaya bulimia ini disebabkan oleh perilaku makan berlebihan dan kemudian membersihkannya yang terjadi secara berulang. Berbagai macam organ akan rusak akibat pembersihan secara ekstrem ini, seperti:
  • Pembengkakan kelenjar ludah di pipi
  • Jaringan parut di buku jari tangan yang digunakan untuk merangsang muntah
  • Pengikisan email gigi akibat bulimia yang sering muntah dan mengeluarkan asam lambung
  • Kadar kalium yang rendah dalam darah.
  • Gigi sensitive terhadap panas atau dingin
  • Masalah pada kelenjar ludah yang berupa rasa nyeri atau pembengkakan
  • Paparan asam lambung berlebih pada kerongkongan bisa menyebabkan borok, pecah atau penyempitan.
  • Terganggunya proses pencernaan akibat pencahar, bisa mengakibatkan disfungsi organ pencernaan .
  • Ketidakseimbangan cairan tubuh akibat stimulus zat diuretic secara berlebih.

Bahaya banget kan efeknya?? Hiii atuuuttt… ?

 3. Binge Eating Disorder ini adalah gangguan ini sebenarnya memiliki karakteristik yang sangat mirip dengan Bulimia, hanya saja mereka tidak memuntahkan makanannya kembali. Seseorang yang memiliki gangguan ini biasanya mengalami kesulitan untuk mengontrol impulsnya untuk makan. 

Sebagai individu yang menderita gangguan makan berlebihan mengalami rasa malu atau malu tentang kebiasaan makan mereka, gejala mungkin sering disembunyikan.

Berikut ini adalah beberapa tanda dan gejala perilaku dan perilaku binge eating disorder:

  • Terus makan bahkan ketika kenyang
  • Ketidakmampuan untuk berhenti makan atau mengendalikan apa yang dimakan
  • Menimbun makanan untuk dikonsumsi secara diam-diam di lain waktu
  • Makan secara normal di hadapan orang lain, tetapi seringnya menyendiri ketika diisolasi
  • Mengalami perasaan stres atau kecemasan yang hanya bisa diatasi dengan makan
  • Perasaan mati rasa atau kurang sensasi saat makan sebanyak-banyaknya
  • Tidak pernah mengalami kenyang: keadaan puas, tidak peduli jumlah makanan yang dikonsumsi
  • Konsekuensi dari gangguan makan pesta melibatkan banyak kesulitan fisik, sosial, dan emosional.

     4. Pica Disorder merupakan gangguan yang merujuk pada orang-orang yang senang menjilat atau mengunyah sesuatu yang bukan makanan (kapur, kertas, lem) atau makanan yang tidak mengandung nutrisi (biji kopi, es batu, baking soda) secara kompulsif tanpa menelannya selama kurang lebih 1 bulan.

Pica jauh lebih sering ditemukan pada anak kecil dibandingkan dengan dewasa. Individu yang terdiagnosis pica dilaporkan menelan berbagai macam zat non pangan termasuk tanah liat, kotoran, pasir, batu, kerikil, rambut, es, kuku, kertas, kapur, kayu, bahkan batu bara.

Pada orang dewasa, bentuk pika tertentu, termasuk geofagia (makan tanah) dan amilofagia (makan kanji), telah dilaporkan terjadi pada wanita hamil. Walaupun pica diamati paling sering terjadi pada anak-anak, gangguan makan ini adalah suatu hal yang paling umum terjadi pada individu dengan retardasi mental. Dalam beberapa masyarakat, pica adalah suatu hal yang bersifat budaya dan tidak dianggap patologis.

kalo makan ini termasuk pica juga ga, ya?

5. EDNOS (Eating Disorders Not Otherwise Specified) merupakan gangguan pola makan yang tak terklasifikasi pada 4 grup sebelumnya. Sebagai contoh, penderita anoreksia yang juga mempunyai gangguan bulimia, atau kombinasi dari berbagai gangguan pola makan lain. Dan bersifat lebih complicated dibanding 4 disorder diatas.

Mau kurus sih, boleh. Mau sehat dan ideal apalagi. Tapi, harus tetap menggunakan cara-cara yang sehat sehingga tidak merugikan tubuh dan jiwa kamu sendiri. Bila perlu, lebih baik konsultasikan dietmu kepada dokter, ahli gizi atau profesional di bidangnya. Selamat diet!!! ?

Source: Apakah diet ketat yang hanya makan makanan tertentu bisa dianggap sama dengan gangguan pola makan?
Binge Eating Disorder: Causes, Symptoms, Signs & Treatment Help
Apa itu Diet? Inilah Pengertian, Jenis, dan Anjuran
PICA (Eatting Disorder)
Gangguan Makan
Bulimia nervosa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *