Psikologinerd

Apa itu Bystander Effect ?

Banyak yang bertanya-tanya Bystander Effect itu apa.Di Indonesia, Bystander Effect merupakan frasa yang kurang familiar. Namun, dengan begitu fenomena ini sering sekali terjadi, bahkan menjadi peristiwa rutin sehari-hari terutama di kota-kota besar.

Apa itu Bystander Effect? Bystander Effect atau efek Bystander menurut Aronson, Wilson, dan Akert, “Dimana semakin besar jumlah penonton yang menyaksikan keadaan darurat, semakin kecil kemungkinan salah satu dari mereka untuk membantu”. Sedangkan menurut Sarwono, Bystander adalah “Orang-orang yang berada di sekitar tempat kejadian dan mempunyai peran sangat besar dalam memengaruhi seseorang saat memutuskan antara menolong atau tidak ketika dihadapkan pada keadaan darurat”. Dan menurut Wikipedia, Bystander merupakan “Phenomenon in which individuals are less likely to offer help to a victim when other people are present. The greater the number of bystanders, the less likely it is that any one of them will help

Duh, pusing deh bacanya. Oke biar gak pusing, 

Bystander Effect adalah peristiwa atau fenomena dimana masing-masing orang cenderung antipati untuk membantu/menolong orang saat ada kecelakaan atau kejadian yang menyebabkan adanya korban. Semakin banyak orang di TKP, semakin kecil kemungkinan salah satu dari mereka akan membantu.

Masih bingung? Oke, ada contohnya:

Misal ketika kamu lagi jalan di trotoar, gak lama didepan kamu ada mbak-mbak yang jatuh karena pake higheels yang ketinggian. Nah sebagai seorang individu, apa yang akan kalian lakukan??

Mungkin kalian akan bilang, ya ditolong lah. Dibantu berdiri. Iya, berpikir dan ngomong itu memang gampang, tapi pada kenyataan, kalian hanya bisa berdiri, atau melanjutkan langkah kalian atau hanya melihat mbak-mbak tersebut tanpa peduli. Iya atau iya?

Ditambah lagi, semakin banyak orang di TKP, semakin besar bystander effect tersebut. Karena, orang-orang di TKP akan beranggapan bahwa, “Ah, nanti juga ada yang nolongin” “Gw lagi sibuk, ada yang lain ini.” atau “Ga kenal, lagian jatuh gitu doang”.

Hmmmmmm……

lagi bobok dijalan

Darimana Bystander Effect ini muncul?

Well, cerita ini bermula dari kasusnya Catherine Susan Genovese atau Kitty Genovese. 

Kitty Genovese adalah seorang bartender yang tinggal di New York City. Dia dibunuh pada tahun 1964 pada usia 28 tahun. Nah, dari kasus pembunuhan ini, munculah fenomena Bystander Effect.

Pada 13 Maret 1964, Kitty Genovese baru saja menyelesaikan pekerjaannya sebagai bar manager pada pukul 3 pagi. Saat pulang, tak disangka dan tak dinyana, pada saat perjalanan pulang Kitty diikuti oleh tersangka sampai-sampai Kitty ditikam oleh tersangka dari belakang, kemudian diperkosa dan dirampok. Para tetangga sebetulnya mengetahui kejadian ini. Namun berdasarkan investigasi, para tetangga tidak mau membantu Kitty padahal dia sudah berteriak minta tolong. Bahkan di koran New York Times membuat headline di koran ” 37 Orang Yang Melihat Pembantaian Itu Tidak Memanggil Polisi“. Gila men!! 37 orang tahu itu pembunuhan dan perampokan tapi gak ada yang mau ngebantuin? Duh!

seriously?

Akhirnya si pembunuh dijatuhkan hukuman seumur hidup dan tersangka, Winston Moseley, akhirnya meninggal dipenjara pada usia 81 tahun. Moseley mengajukan banding sebanyak 18 kali dan ditolak semua sama pengadilan.

Saat dilakukan investigasi, Moseley memberikan pengakuan kepada polisi mengenai serangan yang dilakukan dan menguatkan bukti fisik di TKP. Motif dari si Moseley ini sepele banget, YAITU INGIN MEMBUNUH SEORANG WANITA. Insane!!! Moseley menyatakan bahwa dia bangun malam sekitar jam 2 pagi, meninggalkan istrinya tidur dirumah, dan berkeliling untuk menemukan korbannya, secara random. Ckckck.

Pak Tersangka

Dampak dari kasus ini, jadi banyak penelitian psikologi mengenai fenomena ini. Dan dari riset ini dikembangkan menjadi ilmu pengetahuan yang berguna hingga kini. Mungkin kedepannya research mengenai Bystander Effect ini akan terus berkembang. Sejujurnya, gue sendiri pun masih mendalami fenomena ini.

Kemungkinan besar, bystender effect ini dapat terjadi karena:

  1. Kehadiran banyak orang di sekitar lokasi kejadian membuat difusi tanggung jawab. Hal ini disebabkan ada kehadiran pengamat-pengamat lainnya, atau orang lain di sekitar, membuat seseorang tidak merasa ada keharusan untuk melakukan tindakan. Karena tidak ada pembagian tanggung jawab di antara orang-orang yang melihat kecelakaan itu.
  2. Kebutuhan untuk berperilaku dengan cara yang benar dan dapat diterima secara sosial. Ketika menyaksikan sebuah kecelakaan dan orang lain tidak ada yang bereaksi dan menolong, orang lain sering menafsirkan hal ini sebagai tanda bahwa tidak ada respon yang harus dilakukan.
Sebetulnya untuk case Bystander Effect ini tidak hanya berkisar pada kecelakaan, namun berlaku juga pada bullying case, pelecehan seksual, dan lain-lain dimana adanya ‘korban’.. Namun, pada bullying case, alasan mengapa bystander tidak bertindak adalah:
  1. Bystander takut dirinya ikut tersakiti; Penindas lebih besar dan lebih kuat serta memiliki sebuah reputasi yang membenarkan ketakutannya; itulah yang membuat tindakan membela target bukanlah siasat taktis yang bisa dilakukan.
  2. Bystander takut menjadi korban yang baru. Bahkan, kalau sang bystander mampu membela target dengan sukses, ada kemungkinan ia dipilih untuk korban berikutnya. Para penindas bertindak cepat dalam hal merendahkan dan menjahati siapapun yang mencoba ikut campur.
  3. Bystander takut melakukan sesuatu yang hanya memperburuk situasi.
  4. Bystander tidak tahu tindakan yang harus dilakukan. Ia belum pernah diajari cara-cara untuk menengahi, melaporkan bullying tersebut, atau membantu target.

Sejujurnya, hal ini merupakan fenomena sosial yang masif, sehingga memang agak susah untuk menghilang efek bystander ini. Terutama di kota-kota besar. Yang bisa menghilangkan atau paling tidak, mengurangi efek ini adalah dengan melunakkan hati kita dan menanamkan rasa empati pada diri. Caemmmmmmmm!!!

Source: Mengapa di Indonesia jika terjadi kecelakaan di jalan raya, masyarakat malah mengerumuni hingga membuat macet, menonton dan terkadang malah memfoto?

Apa yang dimaksud dengan The Bystander Effect?

Bystander Effect: Menolong Tidak Harus Memilih Situasi dan Kondisi – Pijar Psikologi

Murder of Kitty Genovese – Wikipedia

Winston MOSELEY

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *